Tampilkan postingan dengan label Panduan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panduan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2009

Mencegah Penipuan dalam Dunia Numismatik Indonesia


Sebagai kolektor kita dituntut tidak sekadar gemar mengumpulkan koleksi mata uang saja. Kita harus terdorong untuk menggali dan mengupas masalah yang bersangkut paut dengan koleksi. Dengan demikian bukan hanya menjadi hobi belaka bilamana kita mau mengungkap sejarah di balik latar belakangnya. Tentunya akan menambah keasyikan kita dalam mencari mata uang yang baru dalam melengkapi koleksi kita.

Kegemaran mengumpulkan mata-mata uang dari negeri sendiri dapat digolongkan sebagai kepedulian akan sejarah bangsa. Apalagi kita mau menelusuri sejarahnya demi melengkapi apa yang telah kita punya.

Dewasa ini banyak orang “menggosipkan” berbagai jenis mata uang, misalnya heboh uang fantasi 1 juta dollar dan uang Soekarno 1964. Tentunya ada oknum tertentu yang mencari kesempatan dan keuntungan material dengan saling tuding dan bahkan memfitnah.

Sejak lama dunia numismatik Indonesia sudah mengenal mata uang “asli” dan “palsu”. Yang dimaksud “asli” dan “palsu” di sini adalah mata uang yang benar-benar asli dan berlatar belakang sejarah serta mata uang yang sekadar fantasi atau fiktif.

Koleksi mata uang yang asli sudah jelas dicetak dan diterbitkan oleh pemerintah. Dulu uang-uang palsu sengaja dibuat oleh musuh-musuh pemerintah guna menyerang pemerintahan yang sah.


Mata uang palsu buatan zaman dulu dan zaman sekarang

Uang palsu buatan zaman dulu dapat kita kenali ciri-cirinya lewat perbandingan dengan uang yang asli. Uang palsu buatan zaman dulu kentara bedanya dengan uang palsu buatan zaman sekarang.

Karakter uang palsu zaman dulu mempunyai ciri-ciri tertentu dalam pembuatannya. Misalnya uang logam palsu bila berusia ratusan tahun bahkan ribuan tahun memiliki berat dan kepadatan logam yang khas karena dibuat dengan teknologi seadanya. Sedangkan uang logam palsu yang dibuat sekarang dibuat dengan teknologi sekarang. Kalaupun dibuat dengan mencontoh teknologi zaman dulu, akan gampang kentara karena kebekuan logam yang dipanaskan. Seorang pakar mampu mendeteksinya dari contoh bunyi logam atau dengan menggoreskan logamnya.

Sementara itu uang kertas palsu buatan zaman dulu memiliki ciri-ciri seperti warna kertas kecoklatan, tua, dan rapuh dengan baunya yang khas bila telah berusia 40 tahun atau lebih. Begitupun bila kondisi barangnya UNC. Meski keadaan kertasnya kelihatan kuat, sebenarnya rapuh dan patah bila terlipat.

Tulisan dan gambar kering dan telah melekat kuat merasuk ke pori-pori kertas sehingga bila terkena air tidak mudah luntur dan masih kentara cetakannya apabila terendam air dan dikeringkan kembali. Warna kertas yang kecoklatan berubah menjadi bersih bila direndam cukup lama dan kertas tetap rapuh bila sudah kering.

Sedangkan uang palsu yang dibuat zaman sekarang mempunyai ciri-ciri warna kertas kecoklatan tetapi kertasnya menjadi coklat akibat dijemur matahari ataupun diasapi dan kertasnya kokoh bila dilipat-lipat. Hal ini untuk menirukan kondisi uang kertas lama yang seakan-akan asli.

Warna tinta tidak begitu kering dan kurang meresap ke dalam pori-pori sehingga mudah luntur meski terkena setetes air. Bila dicetak dengan cetak sablon akan mudah kentara dari bau dan daya lekatnya kurang kuat. Warnanya pun cerah terkadang mengkilap. Bila menggunakan cetak stensil baunya keras atau tintanya mudah luntur karena belum meresap ke pori-pori. Bila menggunakan mesin offset kertasnya kuat dan warnanya cerah seperti baru.

Uang palsu zaman dulu dibuat dengan cara menjiplak gambar dengan ketelitian tangan lalu kemudian dibuat menjadi klise. Sedangkan uang palsu buatan zaman sekarang kertasnya janggal. Terkadang komposisi tulisan, gambar, dan warna kurang teliti karena dibuat dengan cara fotokopi terlebih dulu, baru dibuat klisenya.


Meneliti keaslian uang kertas daerah

Umumnya uang kertas daerah karena dibuat dalam keadaan darurat, maka kurang memiliki tanda-tanda pengaman yang memadai. Sulit sekali membedakan mana uang asli dan mana uang palsu.

Hanya diketahui proses pembuatan uang daerah relatif sama, yakni media kertas yang digunakan dan teknik mencetaknya. Kita mesti memaklumi, dulu pemerintah daerah masih belum memiliki sarana yang memadai. Konon, karena operasi militer penjajah, lokasi pencetakan uang sering kali harus berpindah tempat bahkan sampai ke hutan.

Hal ini menyebabkan terbatasnya penggunaan bahan. Menurut pengalaman, terdapat kesamaan bahan di antara daerah-daerah yang berdekatan. Misalnya karakter uang darurat daerah Asahan serupa dengan Kuala Leidong. Karakter uang darurat daerah Langsa sama dengan Kutaraja, dsb.

Keunikan ciri-ciri karakter uang kertas darurat sesungguhnya khas dan mudah kentara bila dibandingkan dengan uang palsu. Rata-rata uang darurat memiliki kertas-kertas yang rapuh dan layu. Warna kertas pucat kecoklatan dan berbau meskipun dalam keadaan UNC. Cetakan pada tulisan dan ornamen gambar meresap ke pori-pori kertas terdalam dan tidak mudah luntur bila terkena air, sekalipun dicetak menggunakan tinta air.

(Sumber: Sofyan Sunaryo, Berita PPKMU, Oktober 1996)

Selasa, 03 Maret 2009

Numismatik untuk Remaja


Partisipasi remaja dalam numismatik memang sangat diharapkan. Pentingnya pembentukan kader untuk masa depan numismatik di Indonesia mengharuskan kita mengikutsertakan para remaja sebagai generasi penerus. Dalam filateli pengikutsertaan remaja telah mencapai beberapa hasil, antara lain menanjaknya jumlah anggota dan juga bertambah gairahnya kegiatan berkat rangsangan mereka ini.

Bagaimana dengan numismatik? Kalau dalam kegiatan filateli seorang remaja dapat memulainya dengan mengumpulkan prangko bekas dengan cara meminta kepada kawan atau kerabat yang banyak berkorespondensi. Atau malah masih mungkin mengumpulkan amplop berprangko dari keranjang sampah, tipis kemungkinan hal serupa dapat dilakukan oleh seorang remaja yang ingin berkoleksi numismatik.

Memang ada banyak jenis uang tidak laku, tetapi jarang ada uang bekas yang dibuang di keranjang sampah. Seorang remaja yang ingin memulai koleksi uang mau tidak mau paling sedikit harus berhubungan dengan tukang loak untuk mendapatkan mata uang logam atau kertas yang ingin dikumpulkannya. Ini berarti pengeluaran sejumlah uang (yang masih laku) sebagai imbalan.

Pengeluaran uang tambahan untuk remaja yang masih duduk di bangku sekolah tentu saja akan menambah berat beban orang tua mereka karena koleksi yang seperti ini tidak dapat dianggap sesuatu yang esensial oleh orang tua manapun, kecuali kalau orang tua remaja itu kaya sekali yang tentu saja hanya sedikit jumlahnya.

Sampai di sini tampaknya gagasan penyertaan remaja ini seperti satu kasus yang “hopeless”. Beberapa perhimpunan numismatik di luar negeri malah angkat tangan dan tidak dapat menerima keanggotaan di bawah umur seperti remaja itu. Tetapi apa kita juga harus berputus asa mengikuti jejak perhimpunan numismatik luar negeri ini? Saya rasa tidak seharusnya demikian.

Pertama, kita harus berterima kasih kepada pendiri PPKMU yang berpandangan jauh ke depan sehingga masalah ini masih dapat kita cari pemecahannya. Dapat kita lihat dari nama PPKMU, di dalamnya terdapat perkataan “Perhimpunan PENGGEMAR Koleksi Mata Uang”.

Apabila seorang remaja pemula belum mampu memulai koleksi, dia seharusnya masih dapat diterima menjadi anggota dan digolongkan pada kategori “penggemar”. Sebagai penggemar saja dia tidak perlu mengoleksikan apa saja, jadi tidak perlu juga mengeluarkan uang banyak. Untuk menyalurkan minat mereka dapat dianjurkan misalnya:

Menyusun kembali daftar uang yang pernah beredar di Indonesia secara kronologis, tempat penerbitan, pencetak, daerah peredaran, masa peredaran hingga ditarik kembali, harga satu per satu uang di Indonesia dan luar negeri, dan pokoknya banyak lagi.

Melakukan penyelidikan dan penulisan mengenai sejarah satu set tertentu mata uang berupa proyek di SMA atau skripsi di pendidikan tinggi.

Melakukan penyelidikan sejarah tentang sebab-sebab dipalsunya satu mata uang, cara-cara pemalsuannya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan ini.

Tentu saja untuk kegiatan mereka diperlukan bantuan dari para anggota PPKMU yang lebih senior, misalnya berupa peminjaman satu set koleksi, buku, katalog, dan malah bimbingan, petunjuk, serta pengarahan. Ini tentu juga akan mendatangkan keuntungan bagi para senior karena paling sedikit ia akan dirangsang oleh para remaja ini, sehingga pengetahuannya akan bertambah.

Walaupun kita belum melihat adanya kegiatan ini dalam PPKMU pembentukan suatu wadah tersendiri bagi para remaja ini sudah seharusnya kita mulai dari sekarang. Tentu saja kategori penggemar itu dapat juga mencakup golongan lainnya sehingga di dalamnya dapat dimasukkan selain para remaja juga misalnya wartawan yang berminat, guru sejarah, pedagang uang atau orang yang hanya ada minat saja seperti petugas museum dan lain-lain.

Salah satu contoh dari karya yang kelak dapat digarap oleh para remaja adalah skripsi mahasiswa Seri Rupa ITB berjudul “Disain Uang Kertas Indonesia”. Ditonjolkan di dalamnya seni grafika potret Bung Karno dalam berbagai pose.

Sebenarnya opini di atas sederhana saja dan kelihatannya mudah dilaksanakan. Tetapi bagi kita biasanya “memulai sesuatu” adalah hal yang sukar.

(Sumber: H. Natasuwarna, Berita PPKMU 1985)

Sabtu, 21 Februari 2009

Cara Perawatan Koin


Koin memerlukan perawatan. Tanpa perawatan yang tepat, keadaan beberapa spesimen akan menjadi rusak. Apalagi koin-koin yang sudah berusia tua. Sudah tentu nilai koin demikian akan menjadi berkurang. Dengan memberikan sedikit perhatian, maka keadaan dan nilai sebuah koin akan tetap bertahan.

Kurang diketahui sepenuhnya bagaimana cara memperhalus logam yang akan dipergunakan dalam pembuatan koin. Biasanya logam terdapat di dalam kerak bumi berupa campuran yang kompleks, tetapi tidak berubah (stable). Setelah dilakukan penggalian, bijih-bijih logam dipisah-pisahkan dan menghasilkan kurang lebih berupa logam murni. Sering juga logam-logam yang berlainan dicampur untuk memadukan atau mengombinasikan sifat-sifat logamnya dan dibuat suatu campuran untuk dijadikan bahan dalam pembuatan koin.

Ditinjau dari sudut pandangan para numismatis, beberapa jenis logam yang memenuhi syarat (sesuai) untuk pembuatan koin, bijih logamnya harus baru diambil dari tempat penggalian atau penambangannya. Mereka yang sering menangani atau memiliki sejumlah perak, pasti mengetahui bagaimana pekerjaan membersihkan menjadi suatu keharusan atau kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

Sebagai contoh, pada waktu kita mengganti sekering listrik, akan tampak kabel-kabel halus terbuat dari tembaga yang terbungkus. Pada sambungannya terlihat memudar. Ini menandakan mulai rusak. Pada kedua kasus di atas permukaan logam murni yang tidak dilapisi akan bereaksi dengan unsur-unsur pokok dari atmosfir, membentuk campuran logam yang lebih bersifat tetap (tak berubah).

Reaksi yang paling sederhana ialah bahwa apabila logam dikombinasikan dengan oksigen atsmosfir akan membentuk oksida (metallic oxide). Semuanya ini hampir menyerupai zat-zat yang selalu berwarna pudar, yang pada akhirnya menjadikan permukaan koin menjadi rusak kilauannya. Logamnya dapat juga bercampur dengan uap di atmosfir, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, asam encer, dan unsur-unsur pokok yang terdapat di atmofir.

Barang siapa yang mengumpulkan koin dan tinggal di daerah perindustrian, akan dihadapkan pada problem-problem khusus yang disebabkan oleh keadaan dan pengaruh setempat dan sekitarnya. Beberapa waktu kemudian keadaan ini dapat disetujui oleh para numismatis. Pada akhirnya, lapisan luar pada campuran logam akan terbentuk di permukaannya dan bertindak sebagai penahan terhadap kejadian-kejadian dan pengaruh luar selanjutnya.

Pengaruhnya dapat menyenangkan dan menarik. Bahkan “patina”, sebutan yang sering digunakan untuk koin tembaga, dapat menaikkan nilai suatu koin. Bagaimanapun, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk eksperimen. Kita harapkan adanya saran yang berguna untuk mengetahui formasi atau bentuk “patina” koleksi seseorang. Pada kepingan-kepingan yang terbuat dari perak, pengaruh yang sama sering disebut “toning”.


Kilauan

Oleh karena pada umumnya kolektor merasa beruntung memperoleh spesimen yang dicetak berkilauan, perawatan menjadi sangat penting artinya. Perawatan merupakan tindakan yang harus dilakukan sejak awal pemilihan. Proses pencetakan uang melibatkan banyak mesin berat dan sering juga menggunakan tenaga manusia. Oleh karena itu sesampai di tangan kolektor, koin tersebut telah membawa bibit-bibit perusak kilauan uang.

Setelah dipelajari, koin tersebut ternyata harus dicelupkan ke dalam bahan bakar untuk pembuatan korek api. Bahan tersebut dipercaya akan melarutkan minyak dan lemak yang berasal dari pabrik pencetakan. Termasuk juga kotoran-kotoran yang menempel, yang terjadi pada saat-saat sirkulasi.

Bahan bakar untuk korek api adalah cairan yang paling tepat, tetapi kemungkinan terjadinya kebakaran sangat tinggi. Karena itu tidak boleh dipergunakan di dalam ruangan tertutup. Kesulitan-kesulitan yang sebenarnya baru timbul setelah perawatan awal ini. Soalnya adalah untuk selanjutnya permukaan logam sangat dipengaruhi oleh perubahan atmosfir.

Pada dasarnya terdapat dua pilihan. Pertama, logam dapat dilapisi untuk melindungi lapisan luar koin dari atmosfir atau yang terdapat di atmosfir. Kedua, pelapisan koin dapat menggunakan pernis (lacquer), terutama pada spesimen tembaga. Cara kedua merupakan suatu teknik yang berhasil dipergunakan di beberapa museum besar di Inggris.

(Sumber: Buletin PPKMU, Februari 1990)

Mahalkah Hobi Numismatik?


Salah satu kendala perkembangan numismatik di negeri kita adalah anggapan bahwa numismatik merupakan hobi mahal. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar karena tidak semua jenis mata uang (objek utama numismatik) berharga tinggi. Anggapan itu ada juga benarnya karena beberapa jenis mata uang mempunyai harga yang yang “wah” dan menggiurkan. Meskipun demikian, masih cukup banyak mata uang yang berharga murah dan terjangkau oleh para remaja dan pemula yang ingin menggeluti numismatik. Bahkan tidak jarang, dengan menggeluti numismatik beberapa keuntungan—termasuk finansial—dapat diperoleh sehingga bisa menunjang kegiatan selanjutnya.

Numismatik, yang berasal dari kata numisma (bahasa Latin) dengan arti uang logam, memang pada awalnya hanya berupa kegiatan mengumpulkan berbagai mata uang dan menyimpannya. Sejalan dengan perkembangan kemajuan di segala bidang, numismatik berkembang menjadi suatu bidang studi dan niaga mata uang, khususnya di negara-negara yang situasi dan kondisinya memungkinkan. Dengan kata lain, di samping bermakna sebagai hobi, numismatik bisa diartikan sebagai suatu cabang atau disiplin ilmu meskipun dalam skala terbatas. Juga suatu kegiatan niaga atau bisnis.


Motivasi

Banyak motivasi yang mendasari orang menggeluti numismatik. Bisa karena profesi dan lingkungan ataupun sekadar hobi. Karena profesi, misalnya, dilakukan oleh karyawan bank atau tempat lain yang selalu berhubungan dengan mata uang (kasir, bendaharawan, dsb). Tidak jarang karena sering berhubungan dengan uang, mereka menjadi tertarik dan berminat mengumpulkan serta mengoleksi berbagai jenis mata uang.

Lingkungan juga bisa memengaruhi seseorang menjadi numismatis. Sebagai misal orang yang sering bepergian ke luar negeri, karena kerap melihat uang asing menjadi tertarik dan secara tidak sengaja lama-kelamaan akan mengumpulkan dan mengoleksinya. Lingkungan lain adalah keluarga. Dalam keluarga yang senang mengumpulkan mata uang, ada kalanya anggota lain tertarik dan ikut menjadi numismatis.

Hobi atau kegemaran mengumpulkan sesuatu juga dapat mendasari seseorang menjadi numismatis. Seseorang yang hobi mengumpulkan benda antik, tidak jarang juga mengumpulkan mata uang. Seorang filatelis banyak yang merangkap menjadi numismatis atau bahkan berubah dari filatelis menjadi numismatis.

Motivasi dasar sangat penting dalam menjaga kelanggengan seorang numismatis. Makin jelas dan mantap motivasinya, makin tekun seorang numismatis menggeluti bidangnya. Di samping motivasi, tujuan utama juga harus jelas. Menurut artinya, numismatik mempunyai tujuan untuk studi dan koleksi. Dua tujuan ini bisa diperluas dan dirinci, mengingat telah banyak berubahnya makna numismatik.

Rincian tujuan menggeluti bidang numismatik, tidak bisa lepas dari motivasi yang mendasarinya. Dilihat dari motivasi dasar lingkungan dan hobi, umumnya tujuan menggeluti numismatik adalah kesenangan dan kenikmatan. Koleksi yang dibuat semata-mata ingin agar bisa dinikmati keindahannya. Dengan menikmati keindahan, misalnya menyimak lembar dan keping mata uang, secara tidak langsung kita dapat menimba ilmu (studi) apa yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Tujuan lain, sejalan dengan tingkat perekonomian yang menaik, numismatik merupakan cabang niaga baru. Mata uang, banyak yang menganggap bisa dipakai sebagai benda layak dikoleksi dan mempunyai nilai yang menaik bila disimpan. Oleh karena itu banyak orang mempunyai tujuan utama mendapatkan keuntungan dari numismatik, dengan arti kata numismatik sebagai bidang niaga.

Dengan mengetahui secara pasti motivasi dan tujuan terjun ke dunia numismatik, dapat dipakai sebagai patokan dalam mencari dan mendapatkan jenis mata uang yang bakal dibuat koleksi. Dengan kata lain, misalnya motivasinya karena hobi, maka bisa dipilih mata-mata uang yang mendapatkannya semudah dan semurah mungkin, dan ini dapat dikaitkan dengan hobi lain.

Sebagai contoh, bagi seorang pemula yang ingin menekuni numismatik, tidak harus mendapatkan dengan cara membeli mata uang langsung dan yang harganya tinggi, tetapi bisa dengan cara tukar-menukar dengan sahabat pena di luar negeri. Ini dikaitkan dengan hobi korespondensi. Bisa juga memasuki perkumpulan numismatik, sehingga bisa berjumpa dengan numismatis lain. Dari mereka kita dapat memperoleh mata uang yang bakal dikoleksi secara mudah. Caranya bisa langsung kepada para numismatis itu atau melalui pelelangan yang nota bene harganya masih sangat miring, paling tidak materi yang ditawarkan cukup layak dikoleksi (memilih secara selektif).


Materi

Pemilihan materi memerlukan suatu disiplin tersendiri karena saat ini sangat banyak materi yang ada dan semuanya menarik. Untuk menjaga agar jangan sampai pengeluaran dan biaya yang diperlukan terlalu besar, salah satu jalan adalah memilih secara selektif yaitu mata uang mana yang perlu dikoleksi. Mata uang yang perlu dikoleksi adalah yang masih dalam kondisi bagus dan sesuai dengan tema koleksi.

Jenis mata uang yang bagus dan layak dikoleksi terutama dilihat dari tingkat kondisi, nilai, dan harganya. Hal ini memerlukan suatu pembahasan tersendiri. Yang perlu diingat, sedini mungkin kita sudah memahami jenis dan macam mata uang yang bakal dikumpulkan dan keyakinan bahwa numismatik akan bisa mendatangkan manfaat.

Hal ini perlu guna menghilangkan anggapan bahwa numismatik perlu pengeluaran biaya yang besar. Numismatik sebagaimana hobi lain, mempunyai tingkatan. Bagi para pemula banyak cara dan jalan yang bisa ditempuh dengan biaya yang seminimal mungkin. Untuk itulah perlu suatu taktik tertentu dan ini bisa didapat melalui tukar pikiran antaranggota suatu perhimpunan. Itulah salah satu manfaat menjadi anggota himpunan.

(Sumber: Sumpeno Dj., Berita PPKMU, Oktober 1989)

Selasa, 17 Februari 2009

Kondisi dan Motif Hobi


Pada lazimnya mengumpulkan benda-benda numismatik dalam kondisi yang paling bagus (prima) bagi sebuah koleksi merupakan hal yang diharapkan. Gejala “grading maniac” (kegilaan akan kondisi terbagus) melanda semua kalangan kolektor. Namun hal tersebut tidaklah mutlak mengingat setiap orang akan mempunyai alasan yang berbeda terhadap objek perhatiannya. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan mengumpulkan bisa merupakan kolektor murni, semu, atau di antaranya.

Kondisi sosio-ekonomi dan lain-lain akan menentukan usaha seorang kolektor untuk mengumpulkan yang terbaik. Bagi seorang kolektor murni yang bermotif dasar mengumpulkan benda-benda numismatik dengan kondisi seadanya, akan merupakan pemenuhan kepuasan yang memadai, terkecuali mereka yang mampu dalam hal segi sosio-ekonomi.

Mendapatkan benda-benda numismatik tanpa terlalu mementingkan kondisi fisiknya, merupakan suatu kegembiraan tersendiri. Namun biasanya mereka akan berusaha lebih jauh. Haruslah diperhatikan apakah kemampuannya memungkinkan, dengan kata lain apakah mereka bisa mendapatkan dengan cara semaksimal kondisi ekonomi dan kondisi sosial. Kolektor semu akan sangat selektif dalam segala hal, mengingat nilai tambah (keuntungan berlipat) yang diharapkan di kemudian hari. Kolektor tipe ini yang berlatar belakang ekonomi kuat akan selalu menomorsatukan kelangkaan dan kondisi terbaik.

Meskipun aksioma mengumpulkan uang-uang lama sebagai hobi para raja/bangsawan, pandangan ini lambat laun berubah pada abad XX. Yang terpenting apakah usaha ini dapat memberikan kepuasan atau kegembiraan tanpa banyak pengorbanan atau dapat memberikan keuntungan.


Objek numismatik Indonesia

Perkembangan tingkat peradaban manusia sangat pesat pada masa kini, sehingga dinamika numismatik pun mengikuti lajunya perkembangan tersebut. Ruang lingkupnya menjadi luas dengan sendirinya. Objek-objek numismatik Indonesia pun menjadi bertambah sehingga dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Uang logam regular dari masa kerajaan Sriwijaya dan Mataram abad VII sampai sekarang.
  • Exonumia (uang tidak resmi) termasuk token dan medali.
  • Heraldik (tanda-tanda pangkat/kebesaran) berupa lencana (badge) dan lambang, terutama dari abad XVII sampai sekarang.
  • Sigilografi, cap-cap/meterai dari masa kerajaan-kerajaan Nusantara abad VII sampai sekarang.
  • Uang primitif (alat tukar) dari masa awal Masehi sampai sekarang, di antaranya lokan, moko/genderang logam, cincin, tulang, biji-bijian, dsb.
  • Notafili (uang kertas dengan berbagai istilah: surat hutang, surat kredit, tanda penerimaan, bon, kupon, dll) dari 1652 sampai sekarang.
  • Skripofili, berbagai jenis alat pembayaran tidak resmi yang berkaitan dengan fungsi dan fisik prototipe uang kertas, termasuk kupon, kartu kredit, saham, obligasi, lotere, dll dari abad XVIII sampai sekarang.
  • Checkophile, cek, surat akseptasi dan sejenisnya dari abad XIX sampai sekarang.

Umumnya objek-objek numismatik tersebut merupakan objek-objek dari disiplin sejarah, arkeologi, dan etnografi.

(Sumber: Alim A. Sumana, Berita PPKMU, No. 2 Juni 1991 dan No. 4 Oktober 1991)

Perlengkapan Numismatik

Perlengkapan Numismatik

Rupiah dan ORI

Buku Palmistri dan Fisiognomi

Buku Astrologi dan Feng Shui

Buku Numerologi, Grafologi, dan Frenologi

Buku Arkeologi dan Prasejarah

Kontak Saya

Nama :
Email :
Subjek :
Pesan :
Tulis Ini :