Tampilkan postingan dengan label Kolektor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolektor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2009

Kolektor Uang Revolusi dari Denmark


Barangkali salah satu koleksi uang revolusi Indonesia yang cukup lengkap saat ini berada di Denmark. Kolektornya adalah Mr. Hansen. Di Denmark sendiri koleksi uang Indonesia masih kurang dipahami oleh sebagian besar kolektor. Tentu tidak demikian dengan Mr. Hansen itu.

Mr. Hansen termasuk seorang numismatis yang amat getol memburu uang-uang lama Indonesia, termasuk uang revolusi atau ORI daerah. Koleksinya meliputi dua album yang cukup besar. Di antara koleksinya itu ternyata uang revolusi Indonesia yang dia miliki nyaris lengkap. Malah ada beberapa yang tergolong amat langka.

Menurut penuturannya, minatnya akan uang Indonesia termotivasi oleh keindahan lukisan dan gambarnya. Tidak heran dia memiliki pengetahuan akan koleksi Indonesia yang cukup memadai. Bahkan dia paham betul akan jenis dan variasi uang revolusi Indonesia.

Hansen mengatakan, album bakunya didapat pada 1964 dalam sebuah pelelangan di Amsterdam. Waktu itu dia beli seharga 500 Gulden. Sampai saat ini dia masih tetap berusaha melengkapi dan mencari jenis-jenis yang belum ada di dalam koleksinya. Beberapa jenis langka yang ada di dalam koleksinya antara lain ORI Surakarta, Serang, Siantar, Bukittinggi, Tjurup, Tandjungkarang, Bengkulu, Asahan, Aceh, Palembang, Kualaleidong, Labuan Batu, Labuan Bilik, Tapanuli, Djambi, dan Panai. Koleksinya meliputi berbagai pecahan, termasuk pecahan terbesar dari Labuan Bilik yaitu Rp 5 juta dan 25 juta.

Konon, nanti koleksinya akan disumbangkan ke Museum Kopenhagen. Bukan tidak mungkin, museum itu akan menjadi museum uang langka Indonesia terlengkap di dunia.

(Sumber: Berita PPKMU)


Minggu, 22 Februari 2009

Kolektor Uang Kuno: Markus Sajogo Ikut Lelang di Belanda


Oleh: Oky Dian Sulistyo

Salah satu numismatist terkenal di Surabaya adalah Markus Sajogo. Mengumpulkan uang kuno sudah dilakukan Markus Sajogo tiga puluh tahun silam. Dia memburu uang kuno mulai dari proses lelang sampai informasi teman. Pernah dia sampai berbagai negara, mulai Kanada, Amerika Serikat bahkan sampai Belanda hanya untuk memburu uang kuno. Dalam negeri?”idak jauh-jauh cukup di Jakarta saja,”katanya santai.

Markus Sajogo memburu uang-uang kuno tersebut sampai ke Belanda. Di sebuah kota bernama Bussum dia biasanya mengikuti pelelangan uang-uang kuno setiap tahunnya. Untuk mengikuti perkembangan pelelangan mata uang kuno biasanya dia dikirimkan sebuah katalog terbaru dari Belanda.

Hingga saat ini, koleksi uang kuno Markus jika dihitung sampai ribuan item. Uang-uang itu disimpan dalam puluhan album dan didepositkan di salah satu bank di Surabaya. Menurut Markus, nilai uang kuno miliknya bila dirupiahkan mencapai milyaran rupiah.

Ketika Surabaya Post menelepon untuk meminta ditunjukkan uang kuno koleksinya, Markus esoknya menunjukkan satu album berisi koeksi uang kunonya. Semuanya asli. Salah satunya uang 300 Gulden yang dikeluarkan tahun 1864.

Menurut Markus, dia harus lebih dulu mengambil koleksinya itu di salah satu bank di Surabaya agar bisa menunjukkan koleksinya kepada Surabaya Post. “Uang 300 Gulden ini belum pernah difoto media lain. Baru Anda yang saya tunjukkan koleksi saya ini,” ujar pendiri Lions Club ini saat ditemui di kediamannya, Jalan Untung Suropati 45 akhir pekan lalu.

Pria yang saat ini harus berada di kursi roda karena serangan stroke itu kemudian memberi kesempatan kepada Surabaya Post untuk memotret koleksi berharganya itu.

Sekilas tidak ada yang istimewa pada uang itu. Dari segi ukuran, uang kertas itu lebih besar dari uang kertas Indonesia. Ukuran tepatnya 200x125 mm. Terdapat foto Jan Pieterszoon Coen, gubernur VOC Hindia Belanda yang berkumis tebal, di bagian tengah atas. Terdapat tulisan bahasa Belanda yang bercetak paling besar di uang itu. “Drie Hunderd Gulden” yang artinya 300 Gulden.

Di bagian atas tulisan nilai uang itu, tertera bank yang mengeluarkannya, yakni “De Javasche Bank” (nama Bank Indonesia zaman kolonial Belanda). Tahun pengeluaran uang tertera di bawah tulisan nilai mata uang, yakni 1864.

“Dulu pernah ada orang asing menawar uang 300 gulden ini Rp 200 juta, tapi tidak saya berikan karena uang ini sudah menjadi bagian dari hidup saya,” ujar Markus dengan bangga.

Menurut Markus, untuk menjadi seorang numismatist profesional, koleksi idealnya dimulai dengan urutan tahun, khusus untuk uang Nusantara. Baru memburu uang kuno luar negeri. ”Namun, banyak di antara para kolektor yang tidak lengkap koleksi uang Nusantaranya. Koleksinya ‘bolong-bolong’. Tahun pengeluaran uang kunonya banyak yang tidak urut,” ujarnya.

Menurut pria yang mengklaim sebagai kolektor uang kertas kuno Nusantara terlengkap di Jawa Timur itu, uang kuno dikatakan uang Nusantara karena sudah ada sejak kata Indonesia belum ada. Dengan kata lain, uang itu dibuat sebelum Indonesia merdeka.

Markus juga mengaku dirinya bukan hanya kolektor, tetapi juga menjadikan uang kuno sebagai investasi. “Uang kuno itu kan harganya mahal. Kalau disimpan, tiap tahun harganya akan naik terus. Itu kan sama saja saya menabung,” tuturnya sambil tersenyum.

Apa pernah menjual uang kuno koleksinya? ”Walaupun saya belum pernah menjualnya, saya selalu optimistis nilai penjualan mata uang kuno selalu meningkat setiap tahunnya,” kata kakek bercucu tiga tersebut.



Toko Uang Kuno

Bicara tentang jual beli uang kuno, di Surabaya saat ini terdapat toko benda antik yang juga menjual uang kuno. Misalnya Java Coins, sebuah toko di lantai ground di Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya Barat milik Ibnu Soekarno.

Pengamatan Surabaya Post, tiap hari selalu ada orang yang mampir ke toko itu, sekedar melihat atau membeli. Siang itu, seorang pria mengamat-amati uang koin dengan kaca pembesar yang disediakan pihak toko. “Aku mau beli koin kuno untuk melengkapi koleksi di rumah,” tuturnya.

Ibnu Soekarno sendiri selain memajang uang kuno di tokonya juga masih memiliki banyak simpanan uang kuno di rumahnya, Jl Raya Dukung Kupang Surabaya. Saat Surabaya Post berkunjung ke rumahnya, terlihat etalase berukuran lebar 50 cm, panjang 2 meter, dan tinggi 1 meter penuh koleksi uang kertas dan koin kuno.

Ibnu mengatakan, uang kertas diminati daripada koin. Menurut pendapatnya, itu karena uang kertas kuno mempunyai banyak variasi gambar dan warna. Menurut dia, tantangan memiliki uang kertas kuno adalah pada cara merawatnya. “Tidak boleh terlipat, kena flek, dan ada bercak noda. Jadi, menyimpannya memang harus hati-hati,” ujarnya.

Dia menambahkan, gambar yang tertera di uang kertas kuno bisa menjelaskan kondisi Indonesia saat uang itu dikeluarkan. Contohnya gambar orang menyadap karet yang terdapat pada Rp 50 tahun 1947. “Maknanya pada tahun 1947 kondisi perekoniman Indonesia sedang membaik. Sektor perekonomian terbaik saat itu berada di Karet dan Tembakau,” kata dia.

Makna lain di balik uang kertas adalah nomor seri tertentu sering digunakan sebagai tradisi orang-orang Jawa kuno untuk mahar pernikahan. Contohnya tanggal pernikahan yang jatuh pada 160808, maka mahar adalah uang Rp 160.000, Rp 800, dan pecahan Rp 1, Rp 2, dan Rp 5.

Ada beberapa koleksi uang kertas kuno milik Ibnu yang sepintas terlihat ganjil. Sebab, uang-uang kertas itu hanya separuh dan terlihat bekas disobek. Separuhnya entah ke mana. Ternyata menurut Ibnu, uang kertas yang hanya separuh itu menyimpan sejarah.

“Pemerintah saat itu sengaja memotong uang sebagai bukti obligasi atau surat utang. Konon saat uang itu dipotong, nilainya menjadi 10% atau bahkan 50%. Karena itu, banyak orang kaya yang menjadi stress,” ujar Ibnu yang kemudian menunjukkan contoh uang keras seri gajah Rp 1.000 keluaran 1957 yang dipotong hingga nilanya menjadi Rp 100.

Menurut Adi Pratomo, kolektor uang kuno yang juga teman Ibnu, dengan uang kita bisa melihat sejarah tanpa rekayasa. Sebab, dari uang kita bisa tahu sejarah yang baik atau yang buruk. Namun, tidak banyak ahli sejarah yang tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenainya. ”Meneliti uang kuno dianggap tidak mempunyai nilai jual, ” kata Adi yang juga dikenal sebagai pemecah kode-kode uang Ori.

Di kalangan kolektor uang kuno, ada uang kuno yang sangat mahal dan diburu para kolektor. Yaitu uang 600 ORI keluaran tahun 1948 yang hanya berjumlah 24 lembar di seluruh dunia. Uang 600 ORI itu adalah uang yang tidak jadi diedarkan oleh Bank Indonesia.

Menurut Markus Sajogo maupun Ibnu Soekarno, Bank Indonesia saat itu hanya menyelesaikan gambar depannya saja. Uang itu saat ini berada di tangan orang yang dulu diberi oleh orang yang mencetak uang tersebut. Uang yang hanya berjumlah 24 lembar di dunia itu saat ini berharga di kisaran Rp 40.000.000 sampai Rp 50.000.000. (*)

(Sumber: Surabaya Post, Selasa, 4 November 2008)

Puji Harsono, Merangkai Sejarah dari Koin China


Mas kenapa kok orang China banyak sekali di Indonesia? tanya Rahmaningrum (34), istri Puji Harsono (46). Pertanyaan sederhana itu membuat penggemar koin tua ini terusik. Apalagi ketika berkeliling, Puji menemukan ada banyak koin China di hampir seluruh daerah di Indonesia.

KOIN-KOIN itu ia simpan dan koleksi. Kini koleksinya sudah hampir satu ton atau sekitar 300.000 keping. Dari koleksi itu, ia makin tertarik mendalami sejarah China di Indonesia. "Mumpung saya punya koinnya, tahu sejarahnya, dan masih bersemangat meneliti," ujar Puji.

Ia memiliki obsesi tak hanya mengungkap kapan orang China datang ke Indonesia dan kapan China menyebarkan Islam di Indonesia. Puji memiliki koin China dari dinasti Sebelum Masehi sampai tahun 1900-an. Koin-koin itu sebagian besar 90 persen ia dapatkan dari Jawa Timur. Sisanya, 9,9 persen dari Jawa Tengah dan 0,1 persen dari Jawa Barat.

"Saya tak tahu kenapa di Jawa Barat hanya ditemukan sedikit koin China. Padahal, di sana ada Banten yang menjadi pusat perdagangan," ujar Puji. Ia menduga koin-koin China di Jawa Barat masih terpendam jauh dalam tanah karena tertimbun lahar saat gunung merapi di daerah itu meletus hebat. "Buktinya, candi di Cicalengka saja baru ditemukan sekarang," kata Puji.

Sementara itu, di Jawa Timur-yang memilih pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan dengan bangsa lain-koin China mudah ditemukan di goa-goa atau dari galian tanah para petani.

Puji yang berdomisili di Bandung itu mengatakan, sebenarnya untuk penelitian itu, ia ingin sekali meneruskan kuliah di S2 Sejarah, sayangnya di Universitas Padjadjaran tak ada program S2 untuk sejarah.

Menemukan uang kuno baru selalu membuatnya bergairah untuk meneliti. Ia rajin memburu buku yang memuat sejarah uang di arsip nasional, perpustakaan-perpustakaan, bahkan ke luar negeri. Salah satu sumber yang banyak membantunya adalah sebuah catatan dari China tentang Indonesia. Buku itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan Inggris. "Untungnya catatan sejarah tentang segala sesuatu yang terjadi 1.600 Setelah Masehi masih bisa ditemukan," kata Puji.

Karena cintanya pada uang juga, Puji mempelajari berbagai huruf dan bahasa asing. Jangan heran kalau ia begitu fasih membaca angka-angka yang ditulis dalam huruf Arab, China, dan Jawa Kuno.

"Tetapi, khusus untuk angka dan huruf China, saya hanya menghafal karakternya saja. Tetapi, saya tak bisa berbahasa China. Bahasa Arab, saya bisa sedikit karena pernah belajar waktu sekolah. Tetapi, saya suka Arab Melayu. Tulisannya lebih bagus," katanya.

Sampai saat ini, menurut Puji, jarang ada orang meneliti uang. Itu sebabnya tak banyak orang mengetahui sejarah uang yang beredar di Indonesia. Maka, lelaki beretnis China yang beristri orang Melayu ini bercita-cita membagikan pengetahuannya tentang alat tukar kepada masyarakat luas. Salah satu jalan yang ditempuhnya adalah melakukan pameran bertajuk Bandung Filanum 2004 di Gedung Pasarbaru, Bandung, pada 23-27 September 2004.

Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Numismatik Indonesia (ANI), Indonesian Topical Association, Perkumpulan Filatelis Indonesia. Di ANI, Puji menjabat sebagai wakil ketua.

Filanum singkatan dari filateli dan numismatika. Filateli adalah pengumpulan prangko dan benda pos lainnya. Sedangkan numismatika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang koin, token, uang kertas, dan alat tukar lainnya, juga medali.

Bandung Filanum 2004 tidak memamerkan uang dan alat tukar lainnya dengan informasi mini, tetapi juga menuliskan sejarah uang tersebut. Rasanya, orang awan yang jarang mengetahui sejarah uang akan membelalakkan mata ketika melihat koleksi dan membaca sejarahnya.

Anda mungkin sering mengganti kata rupiah menjadi perak. Misalnya, saat mengatakan, "Saya cuma punya uang 500 perak." Pernahkah Anda bertanya kenapa harus diganti perak? Kenapa tidak emas?

Pada tahun 1892, Belanda mengeluarkan uang koin dari perak seharga 1 gulden. Satu gulden berarti satu perak atau satu rupiah. Mungkin dilatarbelakangi hal itu, kata Puji Harsono, istilah perak masih dipakai hingga sekarang. Kata pengganti lainnya, seperti ringgit (2,5 gulden), juga masih dikenal. Namun, ukan (0,5 gulden), setalen (1/4 gulden), dan ketit (1/10 gulden) mungkin tidak lagi terdengar.

Tidak hanya itu, istilah duit, uang, dan dokat sebetulnya sudah digunakan sebagai nama uang ratusan tahun lalu. Di zaman pendudukan Belanda pernah beredar uang Doit (1821) dan Doit VOC Utrecht (1790). Kata uang bisa jadi berasal dari penyebutan nama koin Wang Keteng tahun 1809.

Tahun 1700-an juga dikenal ducaton. Satu dukat bernilai 240 doit atau 300 sen. Mungkin juga kata dokat berasal dari ducaton atau ukuran uangnya dukat. Tak cuma itu, Anda juga mungkin belum pernah melihat uang terbuat dari bambu pipih seperti gagang es krim.

Uang itu adalah token atau mata uang yang beredar hanya di wilayah tertentu. Token dari bambu itu hanya beredar di perkebunan Tjirohani, Sukabumi. Di bagian muka dan belakangnya ditulisi acht 8. Nilainya 8 sen. Token ini dibuat sekitar tahun 1870 sampai 1885.

Salah satu alasan token ini dibuat adalah untuk mencegah para buruh perkebunan kabur dari perkebunan setelah mendapat upah. Karena selain di wilayah perkebunan, uang bambu itu tak bisa digunakan di wilayah lain.

Ada juga uang dari kain tenun dari Kerajaan Buton, Sulawesi. Uang sepanjang telapak tangan dengan lebar empat jari seorang menteri besar itu beredar sekitar tahun 1597 hingga 1940. Ukuran uang ini selalu berubah tergantung pada panjang pendeknya menteri besar yang menjabat saat itu. Setiap menteri besar berganti, token kain pun berubah.

Puji mengoleksi koin-koin kuno dari dalam dan luar negeri yang pernah beredar di Indonesia. Perdagangan di masa lalu juga mengenal pertukaran uang. Orang China atau orang dari luar tanah Jawa menukarkan uangnya di money changer. (Y09)

(Sumber: Kompas, Jumat, 24 September 2004)

Perlengkapan Numismatik

Perlengkapan Numismatik

Rupiah dan ORI

Buku Palmistri dan Fisiognomi

Buku Astrologi dan Feng Shui

Buku Numerologi, Grafologi, dan Frenologi

Buku Arkeologi dan Prasejarah

Kontak Saya

Nama :
Email :
Subjek :
Pesan :
Tulis Ini :